Showing posts with label ekslusif. Show all posts

Tradisi Balkan di Lazio

, by idrayang

Di perjalanan sejarah Lazio, tercatat beberapa nama pemain yang berasal dari negara pecahan Yugoslavia. Beberapa nama bahkan memiliki kenangan indah ketika berseragam biru langit, kiprah mereka ketika membela Biancoceleste tak bisa dilupakan begitu saja.

Negara Balkan ini selalu menyumbang pemain mereka di skuad Lazio, selama 111 tahun Lazio beberapa nama itu seperti membuat tradisi untuk tim elang ini meski memang tidak sebanyak pemain dari Argentina. Dimulai dari sosok penyerang paling terkenal negara Albania di era 1940/50, Loro Borici begitu disebut nama striker tersebut. Pemain ini ditransfer Lazio dari Vllaznia pada musim 1941.
 Pada tahun 90', kedatangan Sergio Cragnotti yang kemudian membangun sebuah koloni baru, Pembelian pertama adalah duo kroasia striker maut Alen Boksic dan Vladimir Jugovic. Alen Boksic menjadi andalan Lazio sejak musim pertamanya, di tahun 1993-2000 ditarik dari Marseile sempat berlabuh di Juventus semusim tetapi kemudian kembali ke Lazio, ia memiliki sebutan khas dari supporter Lazio yakni "The Alien". Selama delapan tahun berseragam biru langit Boksic sukses menghadirkan enam gelar, mengoleksi 31 gol dari 115 pertandingan.

Vladimir Jugovic hadir jauh setelah Boksik, ia datang pada musim 1997 namun ia hanya singgah selama semusim. Di musim tersebut Jugovic menjadi salah satu aktor kemenangan atas Milan di final Coppa Italia. jugovic menjadi salah satu pencetak gol lewat titik putih di second leg final Coppa Italia dan membuat Lazio meraih gelar juara Coppa.

Perginya Jugovic digantikan dengan duo Yugoslavia (sekarang serbia) Sinisa Mihajlovic dan Dejan Stankovic. Miha ditarik dari Sampdoria sedangkan gelandang muda Stankovic dibeli dari Red Star, bersama Alen Boksic mereka akhirnya menjadi bagian skuad bersejarah Lazio dalam merengkuh scudetto kedua. Bukan hanya disitu gelar yang berhasil diraih oleh duo Serbia itu, tercatat dua piala super italia, satu piala Italia, satu piala Super Eropa dan pemegang abadi Piala Winner.

Kemudian dibeberapa belakangan tahun terakhir, Lazio dihuni kembali oleh pemain asal Balkan, musim 2001 Darko Kovacevic hadir berseragam biru langit. Namun pencapaian yang didapat striker ini dinilai buruk. Datang dengan misi menggantikan sosok Marcelo Salas, Kovacevic gagal mendapat tempat dan hanya bermain 7 partai tanpa menghadirkan satu gol pun. Ada lagi sosok gagal dari Serbia yaitu gelandang Lazetic dibeli dari Chievo Verona pada musim 2003, juga kiper Samir Handanovic yang dipinjam dari Udinese dan hanya bermain sekali.

Musim 2005 Lazio mengambil Igli Tare dari Bologna,Tare yang berasal dari Albania dibeli dari bologna kini menjadi Direktur Olahraga Lazio, Sebenarnya ada satu lagi pemain keturunan Balkan, yaitu Valon Behrami namun pemain ini memilih Swiss sebagai negaranya meski ia lahir di Kosovo. Sebelum kedua pemain tersebut Lazio telah memiliki pemain Balkan lainnya yaitu Goran Pandev pemain asal Macedonia yang di rekrut dari Inter Milan pada musim 2004. Musim 2008 Igli Tare resmi pensiun dan menjadi tangan kanan Lotito sedang Behrami hijrah ke Premiership membela Westham United.
Pemain keturunan Balkan yang terakhir berseragam Lazio adalah Aleksandar Kolarov, ia dibeli Lazio dari OFK Beograd seharga €925,000 kemudian dijual Lotito seharga 16 juta euro ke Manchester City. Bersama koleganya Goran Pandev, mereka menjadi andalan skuad Biancoceleste, dan berhasil memberi gelar Lazio sebuah Coppa Italia dan Super Coppa, Pandev tidak ikut serta saat Lazio menjalani partai Super Coppa dikarenakan terlibat masalah dengan Lotito yang akhirnya mengakibatkan sang pemain di anggap pengkhianat dan dibekukan selama satu musim, musim 2010 Pandev akhirnya pindah ke Inter Milan dengan status free transfer sedang Kolarov berpaling ke Premiership.

Lalu siapakah Pemain dari negeri pecahan Yugoslavia tersebut yang terbaik menurut anda .. ?




Support Laziale...


read more

Derby untuk kehormatan!!!

, by idrayang



Derby kali ini adalah derby segalanya, Derby untuk scudetto, untuk Liga Champion untuk sejarah, untuk kebanggaan dan untuk posisi di klasemen.

Reja memiliki kesempatan untuk merasakan kemenangan pertama kalinya sejak ia memegang kendali Biancoceleste juga memperlebar jarak dari Rioma di klasemen seri-a sekaligus memusnahkan peluang si serigala merda itu ke zona liga Champion.

Selain itu sejak delapan tahun terakhir birulangit selalu berada di bawah posisi dari Rioma, terakhir Lazio berada di atas Rioma pada klasemen seri A terjadi di musim 2002/03 ketika itu Lazio dibawah kendali Roberto Mancini. Biancoceleste finish di posisi empat dan berhak ke kualifikasi Liga Champion, sedangkan Rioma berada diposisi delapan, delapan tahun berada dibawah Rioma dan empat kali kekalahan beruntun jelas bukanlah hal yang patut didapat il Aquilotti, Derby kali jelas harga mati untuk Edi Reja.

Hasil terburuk didapat musim lalu ketika sang Elang harus bersusah payah mati-matian untuk menjauhi degradasi, Serigala merda bersaing ketat dengan Inter Milan dalam perebutan Scudetto. Kini keadaan telah berubah menjadi lebih baik, namun masih buruk dalam catatan Derby musim ini, ditangan Edi Reja Lazio harus menerima pil pahit empat kali gagal di Derby Kota Abadi.

Delapan Tahun adalah waktu yang lama, saatnya elang berada diatas Serigala Merda, tunjukkan bahwa sang biru langit lebih perkasa dari Rioma. FORZA LAZIO!!!!
Support Laziale...


read more

Profil Laziale : Nigel Gan (Laziale Singapura)

, by idrayang


Sudah tiga Laziale Indonesia dikupas profilnya oleh Indielaziale, untuk kali ini saatnya saya menampilkan profil seorang Laziale dari negara tetangga kita tepatnya dari Negara Singapura. Negara yang terkenal dengan The Merlion Park serta pariwisata belanja di Orchard Road ini ternyata memiliki salah satu Laziale yang tidak bisa diragukan lagi kecintaannya terhadap Lazio .

Beliau bernama Nigel Gan, lahir 9 September, Don Nigel mengaku mengenal lalu mencintai Biancoceleste pada musim 1992/1993, sebuah gol dari sang legenda Giuseppe "Beppe" Signori menginspirasi Don Nigel untuk mencintai S.S Lazio, ketika itu Lazio menghadapi Inter Milan. "The goal and Beppe Signori made me a Laziale! :)" Ungkap Don Nigel.
gol indah Signori
Pecinta Lazio yang hobi membaca dan berolahraga renang ini sangat menggilai sosok seorang Signori "Tidak ada pemain yang bisa menggantikan dia di hatiku." Ucap Don  Nigel. Signori memang salah satu legenda Lazio yang tak mungkin dilepaskan begitu saja ketika kita membicarakan Lazio, karena pemain ini telah membuat sejarah ketika ia  berseragam biru langit dan penampilannya membuat semua Laziale secara langsung jatuh cinta. 

Don Nigel dengan Bendera Lazio
Don Nigel adalah sosok dibelakang pemberian tanda tangan asli para pemain Lazio kepada Lazio Indonesia, ketika itu Don Nigel meminta tolong kepada Mr. Paolo Peroso untuk meminta tanda tangan pemain Lazio khusus untuk Laziali yang ada di Indonesia dan Singapura namun ternyata Mr. Paolo Peroso mengira Indonesia dan Singapura adalah satu negara, jadilah di kertas tanda tangan tersebut hanya bertuliskan "To All Indonesia Laziali".

Masih ingat momen indah ketika Lazio menghempaskan Manchester United di Piala Super Eropa 1999? itu adalah momen terindah bagi seorang Don Nigel . Baginya mengalahkan Man United rasanya sama saja mengalahkan tim Ass Rioma, karena kebenciannya terhadap Man United sama halnya dengan membenci Ass Rioma Merda.

Rasa cinta Don  Nigel terhadap S.S Lazio sangatlah luar biasa, itu dibuktikannya dengan kenekatannya berangkat ke Italia agar bisa nonton langsung pertandingan Lazio di Olimpico, keinginannya untuk menonton langsung Lazio di Olimpico terpenuhi berkat bantuan dari Mr. Paolo Peroso. Ketika itu Don Nigel sempat kesulitan mendapatkan tiket untuk pertandingan antara Lazio vs Torino dikarenakan jadwal yang diubah oleh federasi sepakbola Italia. Beruntung Mr. Paolo berhasil membantu Don Nigel untuk mendapatkan tiket itu. Don Nigel pun sukses membuat mimpinya menjadi kenyataan!

Pertandingan itu sendiri akhirnya hanya berakhir imbang 1-1, partai itu juga menghasilkan sebuah kejadian unik, ketika itu sepakan tendangan bebas dari Kolarov menghantam kepala sang wasit Saccani. Tak pelak lagi si wasit pun terjungkal jatuh, Saccani mencoba untuk bangun namun tampaknya hantaman tendangan Kolarov sangat keras akhirnya membuat dia terkapar kembali di lapangan.

Selain menonton langsung,  Don Nigel juga mendapatkan bonus yang tak terkira, ia mendapat kesempatan untuk berphoto langsung dengan pemain Lazio seperti Matuzalem, Muslera dan Lichtsteiner.  Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Tapi ternyata Don Nigel belum puas meski telah menonton langsung Lazio, rencananya pemilik blog http://singaporelaziofans.blogspot.com/ ini berniat untuk kembali ke tanah Italia dan kembali menonton langsung pertandingan Lazio di Olimpico, namun kali ini Derby della Capitale pada 13 Maret mendatang menjadi pertandingan yang akan disaksikan langsung oleh Don Nigel.
Nigel Gan dengan Muslera
Menanggapi pertanyaan mengenai permainan Lazio saat ini, Don Nigel berkomentar "Saya pikir, tim ini telah melakukan yang terbaik, mengingat saat ini kita hanya memiliki "pemain yang bagus", dan tidak ada pemain superstar seperti Milan dan Inter. Skuad ini ternyata lebih baik dari yang pernah saya prediksi, sebagaimana saya hanya mengharapkan posisi 8 sebelum musim ini bergulir."

Menurutnya Hernanes menjadi kunci keberhasilan Biancoceleste saat ini, kedatangannya membuat kemampuan dan kepercayaan diri para pemain Lazio lainnya menjadi meningkat, seperti Mauri diawal musim, juga pemain kunci lainnya seperti Ledesma, Dias dan Muslera, juga tidak ketinggalan pemain muda Kozak.

"Saya tidak berharap kita untuk mengejar scudetto secara langsung. Sebuah tim pemenang harus dibangun secara perlahan. Jika kita dapat melakukan pembelian penting musim depan, maka saya harap Lazio bisa berada di atas 4 besar." Ucap Don  Nigel mengenai peluang Lazio saat ini.

Nigel Gan & Johan Maputra
Don Nigel berharap ada beberapa pemain baru yang bisa memback up pemain yang saat ini selalu menjadi andalan, pembelian Sculli dianggap masih kurang memadai untuk skuad saat ini.

Perkenalan Don Nigel dengan komunitas Lazio di Indonesia berawal dari perkenalannya dengan Novi seorang Laziale wanita asal Bekasi, sejak itu Don Nigel semakin banyak mengenal para Laziale Indonesia "Saya mengenal Lazio Indonesia 3 tahun lalu melalui Novi Muslera. Dari dirinya saya akhirnya berteman dengan banyak Laziale Indonesia, seperti Adrian, Johan, Risda dan yang lainnya!. seperempat dari teman saya di Facebook adalah dari Lazio Indonesia!! hahahah" Ucap Don Nigel. Khusus dengan Bang Johan, Don Nigel telah bertemu langsung ketika Bang Johan tandang ke Singapura, di sana Bang Johan diperkenalkan dengan beberapa Laziale Singapura antara lain Melvin, Stefano, dan Harun sambil makan malam bersama di daerah Orchard Road.

Don Nigel pun berkomentar perihal kemajuan yang dialami Lazio Indonesia, "Saya pikir L.I telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Penyambutan yang kalian berikan kepada Muslera dan Gonzalez di Bandara Soekarno Hatta telah mengejutkan pecinta Lazio di seluruh dunia! Saya bangga dan kami Lazio Singapura sangat bahagia memiliki Lazio Indonesia sebagai sahabat dan abang kami. Semoga suatu saat nanti Lazio Indonesia dan Singapura bisa gathering bersama"
Lazio Singapura
Pesan Don Nigel untuk para Laziali di dunia khususnya di Indonesia.
"Saya pikir penting bahwa penggemar sepak bola saat ini mengetahui hal ini. Baik itu penggemar sepak bola yang muda atau tua. Mendukung tim sepak bola adalah tidak selalu tentang kemenangan. - Suatu saat Anda menang, dan suatu anda juga Anda kalah, kami tidak mencintai tim hanya karena banyak orang yang mendukung mereka atau bahwa mereka terkenal dan selalu menang."


read more

Profil : Libor Kozak, bintang baru Biancoceleste

, by idrayang

5 gol dalam 12 pertandingan dan hanya 4 kali kesempatan bermain sebagai starter, total 504 menit dijalaninya, ini berarti satu gol dalam waktu 100 menit 48 detik yang diciptakan Kozak. Suatu hal mengejutkan yang di perlihatkan oleh striker muda Lazio asal Republik Ceko itu. Bahkan bila dibandingkan dengan striker terbaik seri A musim ini Libor Kozak diatas rata-rata gol dari Ibrahimovic, Eto'o dan ataupun Di Natale.Bahkan Kozak lebih baik dari top skor lega calcio saat ini yakni striker Napoli Edinson Cavani!
Cavani memang jauh mencetak gol lebih banyak, ia mencetak 20 gol dari 24 kali kesempatan bermain, namun dari segi menit ia rata-rata mencetak 101 menit satu gol masih dibawah Kozak yang mencetak 1 gol dalam waktu 100 menit 48 detik. Di Natale mencetak gol setiap 108 menit, Eto'o setiap 123, dan 138 menit untuk Matri.



Takdir tuk Biancoceleste
Kozak kini betul-betul telah mengejutkan semua orang, kini ia menjadi idola baru bagi para Laziali di seluruh dunia termasuk di Indonesia, gol-golnya selalu ditunggu oleh mereka yang mencintai Biancoceleste.

Tapi tahukah kalian siapa itu Libor Kozak, striker yang memiliki tinggi 1.93 meter ini memulai karirnya ditahun 2001 bersama klub seri b ceko Slezský FC Opava, ia bergabung bersama tim muda terlebih dahulu sebelum akhirnya dipromosikan ke tim utama, lalu dibeli Lotito dari dengan nilai transfer 1.2 juta euro pada hari terakhir bulan Juli 2008, saat itu di FC Opava Kozak mencetak 11 gol.

Saat Lazio memantau pemain jangkung ini dalam delapan bulan pertama Kozak selalu di pantau oleh Sergio Berti, barulah setelah itu Walter Sabatini mantan direktur Direktur Olahraga Lazio Biancoceleste turun tangan mengikuti perkembangan Libor Kozak.

Sabatini memantau Kozak melalui rekaman-rekaman pertandingan yang dilakukan striker tersebut, kemampuan yang dimiliki Kozak membuat Sabatini tertarik dan dan melakukan negoisasi kontrak untuknya. dan tepat bulan Juli 2008 Lotito memastikan mengontrak pemain kelahiran 1989 tersebut untuk berseragam biru langit dengan kontrak selama lima musim. Pada usia 19 tahun Kozak hijrah ke Italia dan bergabung dengan tim primavera Lazio pada saat itu bersamaan kozak dipanggil timnas u-19 Ceko untuk berlaga di kejuaraan Eropa u-19.

Pemain yang lahir di Brumov Bilnice 30 mei 1989 ini sempat mengikuti trial di klub Liga Inggris Portsmouth pada bulan Januari 2008, namun entah kenapa di memutuskan untuk tidak bermain di Premier League, ia menolak bergabung dengan Portsmouth. Diakhir musim Biancoceleste menjadi jodohnya.
Dengan latar belakang sebagai pemain seri b di liga ceko dan dengan umurnya yang masih muda ia tak perlu lama menunggu waktu baginya untuk tampil di liga sekelas seri a,tepat pada tanggal 2 mei 2009 Kozak pertama kali menapakkan kakinya di pentas lega calcio dengan berseragam biru langit, ia menggantikan Mauro Zarate pada laga melawan Inter Milan di menit ke 84'. Meski Lazio kalah namun tinta emas telah digoreskan oleh salah satu calon masa depan Biancoceleste. Dimusim itu total ia bermain 3 kali.
Kembali untuk lebih baik
Musim selanjutkan kiprahnya ada di seri B ia dipinjamkan Lazio ke klub Brescia, klub yang sempat di bela oleh Tare. Disana ia diharapkan mendapat tampat untuk bermain reguler di tim inti agar mendapat pengalaman sebelum ia dipercayakan menjadi andalan lini depan Lazio.
Kozak bermain 30 kali dan mencetak 4 gol untuk Brescia, tepat pada tanggal 26 September Kozak mencetak gol pertamanya di ranah Italia ke gawang Grosseto, sayang Brescia harus kalah 1-2. Catatan manis Kozak lainnya adalah dimasa peminjamannya ia sukses membawa Brescia promosi ke seri A.
Support Laziale...
Awal musim ini ia kembali ke Formello, sejak latihan pra musim ia telah memperlihatkan kemampuannya, Kozak tercatat menjadi top skor Lazio diajang uji coba Lazio pada pra musim ini dengan 8 gol mengalahkan Floccari, Rocchi dan Zarate.

Gol yang ditunggu dari seorang Libor Kozak akhirnya hadir kala Lazio menghadapi Fiorentina pada tanggal 18 September 2010, Kozak menjadi pahlawan Lazio dipertandingan itu,ia hanya membutuhkan waktu tujuh menit sejak ia menggantikan Rocchi pada menit ke 60 untuk membawa Lazio unggul 2-1. Kozak kemudian menambah golnya namun kali ini bukan diseri A melainkan di Coppa Italia, melawan tim Portogruaro dan membuat Lazio menang 3-0.

Takdir memilihnya
16 januari 2011, Kozak membalaskan kekalahan Lazio di pertemuan pertama atas Sampdoria. Kozak mencetak satu-satunya gol yang membuat Lazio saat itu memperoleh kemenangan pertamanya di tahun 2011.

Pada jeda transfer Januari 2011 sempat berhembus kabar bahwa Lazio akan melepas pemain muda ini untuk dipinjamkan ke klub lain. Lotito memang mengatakan ia ingin menambah striker di lini depan Lazio namun Edi Reja memperjelas bahwa ia hanya butuh striker baru bila Kozak memang dipinjamkan ke klub lain, ternyata penampilan Kozak makin meningkat dan kepercayaan Reja sedikit demi sedikit diberikan untuknya. Kozak pun mendapat tempat di tim inti, penampilan Kozak melawan Rioma di Coppa Italia membuat Reja semakin percaya meski saat itu ia harus ditandu keluar karena cedera.

Kesempatan kembali hadir untuk Kozak, Lazio harus kehilangan Zarate yang terkena sanksi kartu merah di partai sebelumnya serta Floccari dan Rocchi yang masih cedera, akhirnya Kozak menjadi pilihan utama bersama Sculli di lini depan Lazio ketika Lazio menjamu Fiorentina.
Dipertandingan itu Kozak menjadi pahlawan Lazio, striker jangkung itu mencetak dua gol, gol pertama ia cetak melalui titik putih setelah aksinya dilanggar oleh bek lawan. Gol kedua lewat kepalanya menerima umpan manis dari Sculli. Sejak itu Lotito yakin ia tak perlu menambah striker lagi untuk Lazio karena disana ada Kozak.

Partai selanjutnya melawan AC Milan menjadi salah satu partai terpanas buat Kozak, bagaimana tidak setelah pertandingan tersebut dirinya menjadi pembicaraan seluruh media di Italia terutama di kota Milan, namun bukan karena gol atau penampilannya melainkan karena Kozak dua kali berturut-turut membuat pemain belakang AC Milan ditandu keluar dan masuk rumah sakit!

Pertama adalah Bonera. Ya, terpaksa Bonera harus ditarik keluar saat jeda turun minum, karena luka di wajahnya akibat sikutan Kozak. Kemudian, allenatore Milan Massimiliano Allegri memasukkan bek debutan Legrottaglie, tapi dia hanya bermain selama 39 menit. Pemain yang baru di transfer Ac Milan dari Juventus itu akan selalu mengingat debutnya di Milan pada malam itu, Legrottaglie harus terkulai lemas di lapangan setelah kepalanya terbentur dengkul Kozak.

Setelah memasukkan dua pemain Rossoneri ke Rumah Sakit, kozak kembali memperlihatkan ketajamannya, meski di partai melawan Chievo ia gagal mencetak gol, namun menghadapi mantan klub yang dibelanya di Seri B yakni Brescia, Kozak kembali membuktikan ketajaman kepalanya, memanfaatkan umpan Ledesma dari sepak pojok, sundulannya tak mampu di hadang kiper Brescia. Namun usai mencetak gol kozak tampak tak memperlihatkan aksi selebrasi yang ebrlebihan yang biasa ia lakukan usai mencetak gol, biasanya ia berlari ke arah pendukung Lazio seusai mencetak gol, kali ini ia bersikap dingin dan tersenyum kala rekan-rekannya mendekati untuk merayakan golnya. Tampaknya Kozak bermaksud menghormati mantan timnya yang memberikannya kesempatan untuk bermain dan mencari pengalaman, mungkin juga ia bersedih karena golnya itu secara tidak langsung membuat brescia tim yang dulu ia bantu promosi ke seri A menjadi semakin terjerambab ke jurang degradasi.
Kesempatan bermain di timnas U-21 pun menjadi langganan untuk striker muda ini.Next melawan Bari, Kozak diharapkan kembali membawa Lazio meraih kemenangan, dengan Zarate atau Sculli bagi diri Kozak hanya satu, mencetak gol dan meraih tiga poin untuk sang elang!!(idr)


read more

Profil Laziale : Ali AlKatiri

, by idrayang

om Ali dengan Majalah Resmi Lazio
Indielaziale kali ini mendapat kehormatan untuk bisa menampilkan profil salah satu Laziale Indonesia yang sangat di segani di komunitas Lazio Indonesia.

Bernama lengkap Ali Alkatiri, boleh dibilang om Ali ini adalah salah satu laziale senior yang sukses menularkan kecintaannya pada Lazio ke anaknya.
Om Ali mengaku mengenal Lazio sudah cukup lama, khususnya sejak Liga Italia disiarkan secara langsung dan rutin oleh RCTI di tahun 80an. Namun mulai tertarik dengan Lazio tahun 1995, ketika itu Lazio bertanding melawan “Indonesian All Stars” di Gelora Senayan.

Ali AlKatiri @FB

Profil Laziale lainnya

Bukan hanya dirinya yang kemudian mencintai Lazio namun om Ali juga mengakui anaknya akhirnya mengikuti jejaknya sebagai seorang Laziale.

"Sejak itu, anakku yang laki-laki, waktu itu masih sekolah di SD, yang juga gila bola, ngefans berat dengan Lazio, ditambah lagi mengikuti perjuangan Lazio mencapai Scudetto di tahun 2000 yang sangat mendebarkan hingga pertandingan terakhir. Akhirnya klop lah, tiap malam hari punya teman diskusi di rumah." Ujar om Ali.

Kecintaan om Ali terhadap Biancoceleste tak perlu diragukan lagi, sampai saat ini beliau masih setia mengikuti perkembangan Lazio, wajahnya  pun telah terpampang di edisi kedua majalah resmi S.S Lazio Style yang terbit di negeri Pizza itu.
Om Ali terkenal aktif forum LazioFever.com, LazioFever adalah forum komunitas Lazio internasional, dimana para Laziale di seluruh dunia bisa membicarakan tim kesayangannya dengan santai.  Bersama Bung Dion Barus yang juga dari Indonesia, mereka menjadi salah satu tim inti (LF Team) dan merangkap moderator juga di sana. Om Ali terkenal dengan Nicknamenya LaziAli.

Itulah mengapa om Ali sangat mencintai Lazio, selain sejarah dan warnanya salah satu alasannya adalah komunitasnya yang  sangat beragam dan memiliki rasa kekeluargaan. "Banyak sekali alasan saya mencintai Lazio, dari mulai sejarahnya, pola permainan yang indah dan cenderung menyerang, sampai warna jersey dan logo yang elegan. Yang paling penting adalah komunitas fans internasionalnya yang hampir ada di setiap negara, dan memiliki hubungan kekeluargaan, bantu membantu, dan saling menghormati satu sama lain."

Derby Della Capitale menjadi salah satu partai yang paling berkesan bagi om Ali, adalah kemenangan 3-2  Lazio atas Roma pada tanggal 30 Maret 2008, dengan gol Behrami di menit terakhir menjadi partai yang sangat indah untuk dikenang.

Om Ali sendiri memiliki kenangan yang tak mungkin dilupakan, bersama keluarganya beliau menonton langsung partai Derby della Capitale di Olimpico!! , sebagai seorang Laziale siapa yang tidak akan bangga dapat menonton langsung pertandingan Lazio di Olimpico, apalagi Derby Della Capitale.

Adalah Derby Roma-Lazio bulan April 2007 dimana di partai tersebut menjadi partai derby terakhir kiper legenda Angelo Peruzzi. "Kebetulan aku lagi nengokin anak-anakku di Belanda sekalian jalan-jalan ke Roma nonton Derby. Berhubung tuan rumahnya Roma, ya kita minoritas, pakai jersey saja baru berani sesudah di dalam stadion. sayang hasilnya 0-0, itu Derby Peruzzi terakhir."



"Yang menarik ya cuma ketemuan dengan beberapa Laziali dari negara lain yg aktif di Forum, ngobrol-ngobrol, minum, nonbar Liga Champions. Nggak ada acara ke Formelo atau ketemuan pemain, karena faktor keamanan dan bukan Lazio tuan rumahnya." Tambah om Ali, luar biasa pengalaman Laziale yang satu ini.
om Ali dan keluarga di Olimpico
Lalu pemain mana yang membuatnya berkesan? hampir sama dengan hampir seluruh Laziale, dimana hampir semuanya pasti memilih sosok mantan il capitano Alessandro Nesta sebagai pemain yang dicintai ketika membela Lazio. Namun ada kekecewaan sedikit dari sang kapten bagi om Ali, adalah partai Derby Della Capitale tanggal 10 Maret 2002 ketika  Lazio harus kalah 1-5 dari tetangga sebelah.

Mengenai permainan dan taktik yang di peragakan oleh Opa Edy Reja, beliau berkomentar "Di awal musim ini performance Edi Reja sangat impressive, khususnya dalam tujuan mencapai hasil akhir. Di beberapa pertandingan terakhir taktik yang diterapkan seringkali membingungkan, seperti penempatan pemain yang bukan pada posisi sebenarnya, penggantian pemain yang kurang tepat, dll."


"Yang pasti, motivasi Edi Reja hanya untuk memenangkan pertandingan, tanpa mempertahankan pola permainan yang cantik dan terus menyerang. Hal ini sangat berakibat buruk di pertandingan terakhir lawan Bologna, dimana Lazio langsung menerapkan pola bertahan ketika baru unggul 1-0."

Musim ini hingga akhir Januari pemain yang menurut om Ali sangat berpengaruh di Lazio adalah Hernanes, dengan gaya permainan dan passing yang akurat cukup banyak memberi kontribusi pada posisi Lazio di papan atas saat ini.

Harapan yang terbaik untuk Lazio jelas selalu ada disetiap Laziale, begitu pula om  Ali, namun tampaknya om Ali tidak ingin terlalu naif, baginya peluang terbaik Lazio musim ini adalah  masuk ke Liga Champions Eropa musim depan.

"Memang berat, tapi peluang masih ada" ucap om  Ali tentang peluang Lazio ke Liga Champion.
om ali di Majalah Lazio Style edisi kedua
Meski jarang tampil di acara offline Lazio Indonesia namun om Ali tak pernah lepas tangan ketika dibutuhkan oleh Lazio Indonesia, menurutnya perkembangan komunitas Lazio di Indonesia saat ini sangat baik, “well-organized”, om Ali juga turut berperan serta dalam penyambutan Muslera dan Gonzales ketika timnas kita melawan Uruguay beberapa bulan yang lalu. Beliau-lah yang menjadi penghubung antara laziali di Indonesia dengan laziali di Italia ketika merencanakan penyambutan tersebut. Dengan bantuan sohib om Ali yang bernama Paolo Peroso rencana itu pun sukses berjalan dan kehadiran Laziale di Indonesia makin di kenal di Italia.

Sebagai seorang pecinta sepakbola tentu om Ali juga mempunyai mimpi suatu saat Lazio akan diisi oleh super star sepakbola macam Lionel Messi, namun untuk saat ini beliau masih realistis. Menurutnya bila Lazio ingin mendatangkan pemain bintang yang ideal, maka jalan keluarnya adalah Lazio harus bermain di Liga Champion, karena memang Liga Champion memiliki magnet yang luar biasa dalam menyedot animo pecinta sepakbola. (Idr)

Sukses buat om Ali dan keluarga,FORZA LAZIO!!!
Credit to Johan Maputra



Support Laziale...


read more

Di Vaio : mencetak gol kegawang roma lebih baik daripada ke Lazio

, by idrayang

Acara Bungiorno Football di radio Mana Mana Italia melakukan wawancara eksklusif dengan mantan pemain didikan asli Lazio yang kini berseragam biru merah Bologna, pemain ini baru saja menjadi salah satu aktor yang menggagalkan Lazio di partai terakhir lewat dua golnya.

Siapa lagi kalau bukan Marco Di Vaio, striker mungil berkepala plontos yang saat ini di dekati oleh Juventus.

Di Vaio mengaku ia terkesan dengan keinginan Juventus untuk merekrutnya tetapi seperti biasa ia ahanya bisa mengatakan bahwa dirinya betah di Bologna dan akan tetap bertahan di sana. Meski dirinya akan habis masa kontraknya di bulan Juni. Di Vaio mengakui ingin menghabiskan masa karirnya di Bologna karena ia merasa semuanya seperti keluarga di kota itu.
Kepada Radio Mana Mana, Di Vaio berkata "Dengan dua gol yang saya cetak ke gawang Lazio, maka saya harus mencetak tiga gol ke gawang Ass Rioma, karena mencetak gol ke Rioma lebih baik ketimbang mencetak ke gawang lazio."

Tentang kejadian yang menimpa Zarate, ia meminta maaf, dengan ban kapten di lengannya ia harus mengatasi masalah ini. "Aku meminta maaf untuknya (Zarate.red) dan kepada semua orang yang melihat kejadian ini."
selebrasi Di Vaio seusai mencetak ke gawang Roma musim lalu
Perihal akankah ia kembali ke Lazio? Di Vaio hanya berucap sejak dua hingga tiga tahun lalu, ketika i adi genoa, telah ada kontak dari Lazio, namun akhirnya tidak tejadi apa-apa.

Satu hal yang pasti Di Vaio tidak pernah melupakan kecintaannya kepada si biru langit S.S Lazio, tim pertama dimana ia mendapatkan pelatihan sepakbola dan merasakan aroma persaingan seri a, hanya sayang saat Lazio di isi oleh para striker kelas wahid seperti Giuseppe "Beppe" Signori, Alen Boksik dll, yang membuatnya sulit untuk mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Karirnya sepeninggal dari Lazio memang sangat beragam, ia sering berpindah klub, ketika masih di Lazio ia yakin ia pantas diperlakukan lebih baik, dan berharap bisa lebih banyak bermain dengan menggunakan seragam Biancoceleste, tetapi nasib tidak menghendaki.

"Pada waktu itu, kesempatan bagi striker muda sangat sedikit, aku pergi dengan tujuan untuk kembali, tetapi hal ini tidak terjadi dan saya tidak berpikir akan terjadi. "


Support Laziale...


read more

Vote This : Gol terbaik Lazio sepanjang awal musim 2010/2011

, by idrayang

Tahun 2010 segera berganti, 2011 pun menjelang...
hampir setengah musim perjalanan Lazio di musim 2010/2011 ini telah di lewati.
Lazio kini berada di posisi ketiga klasemen sementara suatu hal yang sangat patut disyukuri mengingat keadaan ini berbanding terbalik dengan hasil yang didapat Lazio musim lalu dimana ketika itu Lazio harus berada di posisi papan bawah klasemen dan terancam degradasi.

gol terbaik Lazio musim 2009/2010

gol terbaik Lazio tahun 2009

Prestasi Lazio kini telah kembali kejalur sebenarnya, kemenangan demi kemenangan berhasil diraih oleh Biancoceleste dan kemenangan itu di hiasi dengan berbagai gol indah yang dicetak para gladiatior Lazio.
Dari 17 kali bermain Lazio meraih 10 kali menang, 3 seri, dan 4 kali kalah.
Total gol dicetak adalah 21 gol dan hanya kemasukan 14 gol suatu peningkatan prestasi dibanding dengan prestasi musim lalu.

Dari 21 gol yang berhasil dijaringkan gladiator Lazio telah disaring menjadi 11 gol yang akan divoting kembali untuk menentukan yang mana yang paling terbaik diantara ke 11 gol itu.
Berikut nominasi gol-gol tersebut :

1. Tommaso Rocchi
Lazio vs Bologna (3-1)


gol khas dari il capitano Tommaso Rocchi, proses gol yang sama dengan gol yang dicetaknya ketika mencetak gol di laga super cup melawan Inter Milan di Beijing. Rocchi yang menerima umpan dari Stefano Mauri dengan cerdik melob bola hingga melewati atas kepala kiper Bologna yang sudah mati langkah.




2. Sergio Floccari
Lazio vs Milan (1-1)


Ini sebuah gol shotgun dari Floccari, gol yang dicetaknya kegawang AC Milan. Umpan tarik dari Hernanes di sambut dengan sepakan kaki kanan dan bola meluncur deras tanpa mampu dihadang Abiatti.



3. Mauro Zarate
Chievo vs Lazio (0-1)


Kecepatan dan Finishing luar biasa dari Zarate, meski laju bola cukup cepat dan dalam posisi sempit namun masih sempat melepaskan tendangan keras kearah gawang dan GOAL!!!.


4. Stefano Mauri
Lazio vs Brescia (1-0)

Berawal dari aksi aksi individu Hernanes, footwork sang nabi berhasil mengelabui lawan dan kemudian memberikan umpan terobosan kepada Stefano Mauri yang kemudian langsung dengan kaki kirinya melakukan shooting ke gawang, dan tak mampu dibendung kiper Brescia.



5. Javier Garrido
Lazio vs Albinoleffe (3-0)

Tendangan bebas Garrido layak masuk nominator, kaki kirinya mengingatkan pada sosok Kolarov yang menjadi barterannya. Tendangan bebasnya  melengkung tepat ke pojok kanan atas gawang Albinoleffe.


Support Laziale...



6. Andre Dias
Palermo vs Lazio (0-1)
Dias membuktikan bahwa dirinya bukan hanya kuat dalam bertahan, dia juga punya naluri mencetak gol indah, tendangan setengah volinya menyambut umpan dari free kick Ledesma patut masuk hitungan.


7. Mauro Zarate
Lazio vs Napoli (2-0)

Proses gol yang hampir sama dengan golnya ke gawang Chievo, hanya kali ini dari sisi kanan pertahanan lawan, Zarate menerima bola daerah yang lagi-lagi diumpan oleh Mauri yang tampaknya mengerti dengan kecepatan Zarate, dengan bahunya ia mengontrol bola lalu tanpa tanpa ragu-ragu ia melepaskan tengan sudut pojok gawang lawan.



8. Sergio Floccari
Lazio vs Napoli (2-0)
Sentuhan tik-tak ala Zarate dan Hernanes membumbui proses gol indah ini, umpan satu dua diperagakan dengan cantik oleh kedua andalan Lazio ini, meski pressing ketat oleh lawan namun keduanya masih mampu melepaskan umpan cantik yang diakhiri finishing touch luar biasa dari seorang Sergio Floccari.




9. Hernanes
Lazio vs Catania (1-1)
Sang Nabi memperlihatkan kemampuannya dalam hal tendangan jarak jauh, kepintarannya melihat posisi kiper lawan membuat tendangannya tak mampu di jangkau sang kiper. Hernanes membawa bola dari tengah lapangan hingga ke depan gari kotak penalti lalu melepaskan tendangan geledek yang sulit ditepis.



10. Mauro Zarate
Lazio vs Inter (3-1)
Lagi-lagigol Zarate berawal dari umpan panjang yang langsung mengarah ke daerah lawan, kali ini Hernanes yang memberikan umpan, lolos dari jebakan offside Zarate dengan cepat menyambar bola lalu dengan cerdik mencup bola dan masuk ke gawang dengan lancar. Sentuhan terakhir kelas atas dari striker asal argentina ini.



11. Hernanes
Lazio vs Udinese (3-2)
Pergerakan tanpa bola Hernanes Zarate dan Rocchi membuat enam pemain Udinese tak mampu mencegah goal yang diciptakan oleh Hernanes, umpan Rocchi langsung disambut Hernanes dengan tendangan kaki kirinya tanpa melihat keadaan sekitarnya.  Penempatan bola di ujung sudut gawang membuat sulit untuk di tepis kiper lawan.


lalu yang manakah pilihan anda..??
silakan dipilih melalui polling di bawah ini.




read more

Profil Laziale : Andreas Samudera (Semarang)

, by idrayang

Sam waktu menonton Indonesia vs Uruguay
Profil kedua Laziale Indonesia kali ini mengupas tentang perjalanan seorang Laziale asal Semarang yang rela menempuh perjalanan panjang dari Semarang ke Yogyakarta melewati serbuan abu-abu dari Gunung Merapi yang kala itu memang masih dalam kategori awas.

Profil Laziale Indonesia lainnya

Profil
Bernama lengkap Andreas Samudera, lahir 10 mei 1986 di rawa buaya-cengkareng Jakarta ini memang mencintai Lazio sejak pertama kali diajak oleh Ayahnya menonton langsung Indonesia All Star vs Lazio di Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) waktu itu dimana Lazio mengalahkan Indonesia dengan skor 6-2. Dan seperti laziale lainnya warna biru langit adalah salah satu alasan mengapa ia bisa menyukai Lazio.

"Susah seneng gw dukung lazio,, biar kata orang laen kebanyakan dukung Juve, Milan atau Inter gw tetep lazio, dari musim 1997/1998 Lazio mulai di papan atas terus tuh... sampe akhirnya ada 1 scudetto di kehidupan gw. 1999/2000 , nyaris aja gagal kalo Juve ga kalah..gw inget banget tuh " Ungkap Sam tentang kecintaannya terhadap Lazio.

Dalam wawancaranya Sam mengaku kalau dirinya sejak lama ingin tampil di Lazio Indonesia bukan hanya sekedar aktif di dunia maya. Memang doski sempat ikut kumpul ketika Lazio Indonesia mengadakan sebuah turnamen Trofeo LI antar region di Bekasi, namun ketika itu ajang tersebut tidak bisa membuat para Laziale saling mengenal lebih dekat mengingat aroma persaingan di Futsal lebih kentara, lagipula ketika itu doski masih belum dikenal oleh banyak Laziale dan masih malu-malu kucing.
Sama halnya ketika menonton pertandingan Indonesia vs Uruguay, Sam juga hadir bersama rekan seperjuangannya dari Semarang, Bung Tikno. Namun karena terbatasnya waktu dan tidak banyak Laziale yg hadir jadi lagi-lagi keinginan untuk lebih mengenal para Laziale gagal -__-'.

Gathnas

"Semangat banget gue ikutan gathnas LI 2 inie....pengen ketemu ma Keluarga besar LI ..seneng-senang, ngakak-ngakak di dunia nyata barengan mereka...yang gue penasaran pengen liat di dunia nyata tuh om felix, mas rio, mas affan, ama si ojan (pernah ktmu di Gelora Bung Karno gue pikir si peto), satu lagi si epoy (sambil tertawa). Sekaligus bales dendam ga bisa ikut ke Pulau Seribu, gara-gara temen kantor gue meninggal dunia."

Support Laziale...
Perjalanan Sam ke Yogya saat itu benar-benar membutuhkan kesabaran dan semangat luar biasa, Pulang kerja jam 3 subuh lalu membantu keluarga memberesi rumah dan mempersiapkan keberangkatan. Ketika itu Salatiga sudah mulai terkena debu-debu dari merapi. Jam 9, Sam berangkat ke Jogya dengan peralatan perang jas hujan, kacamata item serta masker anti debu. Sam memilih menggunakan mengendarai sepeda motor karena menurutnya ia ingin merasakan petualangan menuju Gathnas LI, meski saat itu debu-debu merapi telah berkeliaran dijalanan.
motor Sam dipenuhi debu merapi
"Bener aja,,dari boyolali - jogja debu tebel banget...1 jam 45 menit nyampe juga di Malioboro terus kontak  panitia nyampe deh di center point Prawirotaman..." Cerita Sam tentang perjalannya saat itu.

Kini Sam resmi menjadi salah satu Laziale yang memiliki tanggung jawab untuk memajukan komunitas pecinta Lazio di Indonesia setelah dirinya diangkat menjadi Humas yang mengurusi banyak hak kegiatan di Lazio Indonesia.

Harapan Sam sama halnya seperti harapan seluruh Laziali di Indonesia yang berharap komunitas Lazio Indonesia ini lebih baik dari sebelumnya dan pastinya bisa makin banyak laziale yang bergabung.


read more

Profil Laziale Indonesia : Adrian Chaniago

, by idrayang

Adrian Chaniago, Presiden LI

Untuk kali ini dan seterusnya indieLaziale memiliki satu artikel khusus untuk mengulas tentang profil para Laziale di Indonesia, dan untuk profil pertama kita awali dari Bung Adrian Chaniago yang saat ini menjabat sebagai Presiden Lazio Indonesia kedua menggantikan Bung Johan Maputra.

 Perkenalan Lazio
Sebelum menjabat sebagai Presiden LI, Bung Ian (begitu biasa di sapa) menjabat sebagai Ketua Lazio Indonesia Region Bekasi, lahir di Palembang dan kemudian menetap di Bekasi, ia mengaku mencintai Lazio sejak masih duduk di bangku SMP.

"saya mulai mengikuti perkembangan lazio sejak tahun 98,waktu itu saya masih kelas 3 SMP dan pada saat melihat permainan lazio serta warna kostumnya yang biru langit saya langsung terpukau, dikala teman2 sekolah saya lebih memilih tim-tim bertradisi juara seperti milan,juve,inter,MU dan sebagainya saya lebih memilih Lazio sebagai tumpuan hati saya"
ungkap sang Presiden kepada indielaziale.

Tahun 2000 adalah tahun emas bagi para pecinta Lazio di Indonesia karena saat itu Lazio berhasil meraih scudetto untuk kedua kalinya, begitu pula bagi bung Ian, kenangan saat menanti scudetto melalui drama yang sangat panjang membuat kecintaannya semakin dalam. Namun sekali lagi Bung Ian memastikan bahwa ia mencintai Lazio bukan karena prestasi yang diraih Lazio.

"walaupun setelah masa kejayaan itu lazio mulai redup karena utang yg menumpuk sampai harus berjuang di zona degradasi tapi justru disitulah seni dalam mencintai klub bola..menerima klub itu apa adanya." ungkap bung Ian.

Tahun Lazio scudetto menjadi tahun pertama pula Pak Pres mengenal komunitas Lazio di Indonesia, pertama ia bergabung di milis lazio-indonesia@yahoogroups.com disana ia hanya menerima berita-berita tentang Lazio hingga tahun 2007 ia mencoba aktif melalui chating via yahoo messenger.

Dan memang bung Ian inilah yang paling sering dan rajin membuat acara conference atau chating bareng antar Laziale Indonesia via YM. Setiap hari siang, sore atau malam tak pernah absen untuk meramaikan aktifitas Lazio Indonesia melalui conference. Dan setiap ada Laziale yang baru join di milis tersebut tak lupa bung Ian langsung meng-add ke untuk menjadi teman di YM, tak heran daftar teman Laziale di YM-nya hampir mencapai 700 teman!

Ketika ditanya siapa pemain Lazio yang di sukainya, Pak Pres berucap "Sejujurnya saya tidak mempunyai pemain favorit di klub ini, saya lebih melihat ke kebersamaan tim dan nasib yang menaungi tim ini..tapi jika diharuskan memilih saya menyukai pemain veteran Veron sebagai pemain yg sudah tidak aktif lagi di lazio dan Hernanes sebagai pemain yg aktif d lazio..kedua pemain itu memberi warna bagi tim lazio di eranya masing-masing"


Tak lupa Pak Presiden juga menilai permainan Lazio musim ini.

Musim ini Lazio sedang berada dalam kondisi bagus, ditangan Edy Reja  permainan Lazio lebih terlihat dinamis dan kokoh dlm pertahanan. Reja benar-benar mencuci otak dan mengubah mental permainan lazio sehingga pemain lebih santai pada saat bermain. Tidak tergesa-gesa dan tahu kapan harus menyerang dan bertahan. Di lini belakang sejak masuknya Dias dan Hernanes permainan lazio benar-benar berubah, blunder-blunder yang tidak perlu sangat jarang terjadi.
Support Laziale...
Di lini tengah duet Mauri-Hernanes mengingatkan dengan duet Veron-Stankovic di jamannya dimana sangat dominan menguasai lini tengah dan sesekali membantu pertahanan. Di lini depan duet flo-zarate merupakan duet terdahsyat setelah Salas-Vieri dan Lopez-Crespo. Flo-Zarate saya pikir masih mengeluarkan 50% kemampuan mereka. Jika kita melihat performa Flo di Atalanta dan Zarate pada waktu musim pertama di Lazio maka saya yakin mereka akan menjadi kandidat kuat capocanonieri Seri A.

Dari teknik permainan sendiri Reja lebih mengutamakan efisiensi dan efektivitas serangan. Jika jaman Rossi kita lebih sering melihat crossing-crossing dalam serangan Lazio, maka di jaman Reja lebih terlihat permainan ball possesion yang bersifat menunggu kelengahan lawan baru melancarkan serangan.

Kekurangan Lazio menurut Pak Pres ada pada pemain pelapis yang tidak mumpuni untuk menjadi alternatif ketika para pemain andalan Lazio mengalami kelelahan ataupun cedera, itu terbukti ketika Lazio harus takluk kepada Cesena yang notabene harusnya bisa dikalahkan oleh Lazio, namun tanpa Mauri dan Hernanes Lazio bermain di bawah form mereka.
Pak pres pertama dan kedua
Untuk pemain yang diharapkan mendarat di Lazio Pak Pres berujar
"Saat ini saya menginginkan lazio agar menambah pertahanan seperti Lugano dr fenerbache dan seorang gelandang bertahan untuk melapis brocchi seperti Bolatti atau pemain sekelas Lassana Diarra atau Essien..Untuk penyerang saya ingin sekali melihat Giuseppe Rossi bermain di Lazio atau Macheda"

Kini setelah menjabat sebagai Presiden LI harapan demi harapan pun di canangkan, target terbesar adalah membuat LI diakui oleh SS.Lazio Italia dan kemudian berharap bisa melobi untuk mendatangkan SS Lazio berkunjung ke Indonesia.
mewakili LI saat memberi bantuan korban merapi melalui Slemania
"Salah satu motivasi saya di Lazio Indonesia ini adalah rasa kekeluargaan yang sangat besar yg saya rasakan semenjak saya mulai aktif di komunitas ini,dan motivasi inilah yang membuat saya ingin terus membangun komunitas ini sehingga dapat menjadi suatu wadah komunikasi antar laziale dan menjadi tugas saya sebagai Presiden Lazio Indonesia untuk mengemban tugas dan amanah yang sudah dipercayakan teman-teman dari seluruh Indonesia. Harapan saya ke depan komunitas ini semakin berkembang dan disegani oleh komunitas-komunitas lain baik di Indonesia maupun di seluruh Dunia..Seiring kebangkitan Lazio di Serie-A mari kita sambut kebangkitan Lazio Indonesia..!!" (idr)


read more

Followers